Panah Papua
  • Beranda
  • Tentang
  • Berita
  • Publikasi
  • Donasi Koin

Rampas Hutan Adat, Anggota MRPB Meminta Cabut Sertifikat FSC Milik PT Wijaya Sentosa

6/12/2025

0 Comments

 
Picture




Struktur rumah di Kampung Idoor tampak berbeda dibandingkan rumah rumah yang berada di kampung pada umumnya. Tampak tiang rumah ditinggikan sekitar 30-100 cm untuk antisipasi banjir. Kampung Idoor sudah menjadi langganan Banjir setiap tahunnya. Idoor terletak di lembah yang diapit oleh dua gunung, Gunung Waibi dan Maskeri. Intensitas hujan yang tinggi menyebabkan dataran ini selalu mengalami banjir. Setiap warganya sudah beradaptasi dengan peristiwa tahunan ini namun ketakutan utama mereka adalah rusaknya hutan adat akibat eksploitasi kayu perusahaan. Ketakutan tersebut semakin menghantui sejak hadirnya PT Wijaya Sentosa/PT WS (Pemegang izin PBPH). Sejak Tahun 2024 perusahaan ini telah menebang kayu dari hutan adat marga yang telah dijaga turun temurun. Aktifitas Penebangan ini bahkan memicu konflik antar marga yang saling klaim kepemilikan sah pada wilayah Rencana Kerja tahunan (RKT) PT Wijaya Sentosa Tahun 2024-2025.
Menanggapi hal tersebut, Eduard Orocomna, Anggota Pokja Adat, Majelis Rakyat Papua Barat (MPRPB) menyampaikan bahwa proses yang dilakukan oleh perusahaan PT WS telah keliru dan tindakan mereka merupakan bentuk perampasan hutan adat dari Marga Waney.  Dalam berita acara tersebut, tertulis bahwa Marga Waney menyerahkan hak hutan adat mereka untuk dikelola oleh PT Wijaya Sentosa. Padahal komunitas marga Waney pun sebagian besar tidak hadir dan tidak pernah menyetujui penyerahan hak hutan adat mereka kepada PT Wijaya Sentosa. Ini salah satu bentuk perampasan hak masyarakat adat terhadap hutan mereka. Modusnya melalui satu orang yang bukan merupakan pengambil keputusan. Dengan dasar itu perusahaan mulai menebang pada RKT 2024 dan menimbulkan konflik horisontal antara Marga Waney dan Marga Samaduda hingga saat ini. Dulu keluarga di Kampung tenang, rasa kekeluargaan tetap terjaga, ada istilah yang lahir dari kampung Wansamber atau Waney Samaduda Bersaudara tapi hadirnya PT WS menyebabkan hubungan ini memudar. Sebagai Anggota MPRB saya minta kepada penerbit sertifikat FSC untuk mencabut sertifikat milik PT WS
Picture
Tebangan PT Wijaya Sentosa di bawah urat Gunung Waibi
Selain itu, Eduard juga meminta kebijakan kompensasi kayu bagi masyarakat adat direvisi. Saat ini untuk kompensasi masih menggunakan Pergub Provinsi Papua Barat No. 5 tahun 2014, kebijakan ini sudah berlaku 11 tahun yang lalu dan masyarakat adat merasa dirugikan karena adanya modus perusahaan yang selalu menggunakan Pergub ini sebagai dasar bahwa harga kubikasi ini keputusan pemerintah sehingga masyarakat adat pun ikuti apa yang mereka sampaikan. Padahal dalam Pergub itu merupakan standar minimum dan masyarakat adat bisa bernegosiasi, kalau masyarakat adat meminta 500 rb atau 1 juta per kubik yah perusahaan harus ikuti tidak boleh pakai besaran minimum.
0 Comments



Leave a Reply.

    Archives

    December 2025
    October 2025
    June 2025
    May 2025
    April 2025
    February 2025
    January 2025
    November 2024
    August 2024
    June 2024
    April 2024
    November 2023
    August 2023
    July 2023
    April 2023
    March 2023
    February 2023
    January 2023
    November 2022
    July 2022
    June 2022
    April 2022
    March 2022
    January 2022
    November 2021
    September 2021
    August 2021
    June 2021
    May 2021
    April 2021
    March 2021
    February 2021
    January 2021
    December 2020
    September 2020
    June 2020
    May 2020
    April 2020
    March 2020
    February 2020
    January 2020
    December 2019
    September 2019
    June 2019
    March 2019
    January 2019
    November 2018
    July 2018
    March 2018
    February 2018
    December 2017

    RSS Feed

Site powered by Weebly. Managed by Rumahweb Indonesia
  • Beranda
  • Tentang
  • Berita
  • Publikasi
  • Donasi Koin