|
Bencana Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) semakin meluas. Kejadian ini membuat masyarakat cemas karena tempat tinggal mereka berada dekat dengan lokasi bencana. Perkumpulan Panah Papua menganalisis kejadian Karhutla di Provinsi Papua Barat dan melakukan cluster sebaran titik panas (hotspot) berdasarkan data Nusantara Atlas. Umumnya terdapat tiga cluster sebaran titik panas di Provinsi Papua Barat, cluster pertama terdapat di areal dataran bomberay (mencakup distrik Tomage dan Bomberay Kabupaten Fakfak, serta Distrik Sumuri di Kabupaten Teluk Bintuni), cluster ke dua berada di Kabupaten Manokwari Selatan tepatnya di Distrik Momi Waren dan Ransiki serta cluster ketiga berada di Kabupaten Pegunungan Arfak tepatnya di distrik Sururey, Taige dan Anggi.
Dalam kurun waktu 14 hari terakhir, terdapat 1.473 hotspot di Provinsi Papua Barat, jumlah hostspot ini naik signifikan pada 20-22 Agustus 2026. Kabupaten Fakfak adalah kabupaten dengan jumlah hotspot tertinggi dalam 2 minggu terakhir. Terdapat 428 titik panah teridentifikasi di Kabupaten ini. Sedangkan Kabupaten Manokwari Selatan menduduki peringat ke dua dengan jumlah hotspot mencapai 320 titik. Peringkat ke tiga ditempati oleh Kabupaten Teluk Bintuni dengan jumlah hotspot sebanyak 175 titik. Panah Papua menilai bahwa kebakaran hutan dan lahan kali ini adalah bencana terparah dibandingkan Karhutla 2015 dan 2019. Arnol Halitopo selaku juru kampanye Panah Papua mengatakan bahwa cluster titik panas ini berada di wilayah wilayah dekat dengan Orang Asli Papua (OAP). Bencana Karhutla kali ini tentunya mengancam kehidupan mereka, kita lihat banyak dusun sagu dan kebun umbi umbian terbakar akibat bencana. Pemerintah harus sigap dalam hal menangani bencana karhutla dan pemulihan pasca bencana. Sebenarnya sejak awal harus dibentuk Satgas Karhutla dalam menghadapi bencana ini,. “Kami minta Pemerintah Provinsi Papua Barat dan pemerintah kabupaten harus serius menangani ini. Kami melihat Bupati Kabupaten Fakfak dan Kabupaten Teluk Bintuni malah sibuk mengurusi partai politik dibandingkan bencana Karhutla. Selain itu kami kecewa dengan Wakil Gubernur Provinsi Papua Barat yang tidak berfokus terhadap bencana karhutla tetapi malah sibuk dalam urusan pemilihan ketua KONI. Perkumpulan Panah Papua juga menemukan terdapat 173 hotspot yang berada di dalam izin perkebunan kelapa sawit yang aktif membuka hutan untuk ekspansi perluasan perkebunan kelapa sawit. Hingga saat ini tidak ada penegakan hukum untuk pemegang izin ini. Padahal di lapangan lahan sawit mereka tampak dibiarkan terbakar tanpa adnaya penanganan oleh pihak perusahaan. Kami meminta Gakkum untuk menindak perusahaan yang tidak patuh terhadap aturan hukum yang berlaku di Indonesia ujar Arnol Halitopo.
0 Comments
Cara Komunitas Marga Ateta Merawat Alam. Ekspansi Jambu Mete Agoda-Bintuni Untuk Masa Depan4/8/2026 Pohon jambu mete di kampung Agoda tampak rimbun dengan buah bergelantungan. Awal agustus adalah masa memasuki musim panen Jambu dengan nama ilmiah Anacardium occidentale. Di kabupaten Teluk Bintuni, pohon jambu mete tumbuh subur di dataran sumuri dan bomberay. Dulu ada program penanaman dari Dinas Pertanian Kabupaten Teluk Bintuni, mereka kasih kita bibit jambu mete ini lalu kita tanam ujar Benediktus Ateta selaku ketua marga Ateta. Sekarang umur pohon tertua dari jambu mete di Kampung Agoda sekitar 10-15 tahun. Perkumpulan Panah Papua telah melakukan pendataan, terdapat 71 pohon jambu mete yang berada di sekitar pemukiman kampung Agoda dengan tingkatan pertumbuhan pohon bervariasi. Hasil Panen Jambu Mete dari Padang Agoda, Teluk Bintuni Pada musim panen kali ini buah nampak rimbun, buah akan dipanen lalu dikelola oleh anggota marga Ateta untuk disemaikan agar terjadi perluasan hutan dengan penanaman jambu mete di sekitar wilayah adat marga Ateta. Memang untuk pasar, masyarakat belum mencoba, namun peluang ekonomi komoditas ini cukup besar. Tidak usah jauh, jika penjualan dalam skala lokal, misal untuk keperluan di Teluk Bintuni saja sudah menjanjikan. Kita tahu bahwa jambu mete ini banyak digunakan untuk bahan baku kue, apalagi kalau menjelang natal dan tahun baru, pasti permintaan tinggi tutur Sul selaku Ketua Perkumpulan Panah Papu Sejak persemaian hingga panen idealnya butuh 4-5 tahun agar mendapatkan hasil panen yang maksimal. Kualitas bibit juga perlu dipertimbangkan. Panah Papua mencoba mengunjungi Pulau Buton dan Pulau Muna untuk mencari plasma nutfah terbaik bagi masyarakat adat marga Ateta. Biji yang berasal dari kedua pulau ini terbaik di Indonesia dan kualitas tidak diragukan. Sekarang bibit telah berumur 2 bulan dan sedang dirawat oleh Pak Beni keluarga dari marga Ateta. keluarga besar marga Ateta punya komitmen kuat untuk menjaga hutan yang tersisa. Belajar dari masa lalu ketika pendekatan ekstraktif perkebunan sawit masuk, mereka hanya menjadi penonton di tanah sendiri. Hadirnya investasi perkebunan sawit di tanah adat Ateta ditolak dengan keras oleh Ketua marga dan keluarga. Mereka trauma dan merasa dirugikan akibat perkebunan ini. Oleh karena itu hutan tersisa yang ada di wilayah adat akan tetap dijaga dan dilindungi. Sebab hutan itu sumber kehidupan mereka. Semoga 5 tahun lagi kita bisa melihat hasil dari upaya mereka untuk perluasan hutan adat melalui budidaya jambu mete. Panah Papua sebagai fasilitator juga berkomitmen tetap menjadi pendamping komunitas untuk pengembangan komoditas tersebut. |
Archives
August 2026
|

RSS Feed